Feeds:
Pos
Komentar

terimalah selembar laut, seberkas daun kering
dan pintu segala penjuru. kumaknai luka
tanpa airmata, dan kubiarkan perjalanan menyanyikan
batu karang. jalan-jalan semakin sulit kupahami 1)

Tapi aku lelaki gunung, Marina. Sering merenung di taman yang dirubung ilalang dan rerumputan. Di gunung aku telah tumbuh seperti burung yang menciptakan sarang kebebasan dari dahan dan daun-daun. Berkicau setiap melihat kesetiaan matahari pada pagi, saat muncul dari balik rerimbun pohon-pohon yang telah ditumbuhi kabut. Dengan bahasa lelaki, aku mengepakkan sayap-sayap kecilku di sepanjang lereng yang gersang. Sebab langit senja selalu melukisnya dengan cahayanya yang jingga. Maka aku pun menjadi lelaki petualang yang sering singgah dari kampung ke kampung dari kota ke kota dari pulau ke pulau. Sampai suatu ketika aku merindukan persinggahan terakhir di rembang usia.

Perempuan bermata embun itu terus menatapku. Lentik bulu matanya seperti ingin memantik api yang terus menyala di keremangan petang. Aku masih terdiam, sambil mempelajari setiap gerak bintang yang menebarkan cahayanya di atas langit-langit kamar. Sementara sebagian wajahnya masih bersembunyi di balik layar monitor. Di antara ribuan file yang berserakan, aku masih bisa menyaksikan aura kelembutan yang menggulung seperti ombak di pantai. Namun setiap saat mungkin juga akan menjadi badai–seperti tsunami misalnya.

“Kamu lelaki gunung, petualang yang kutemui tergeletak di atas rak di antara tumpukan buku-buku dan koran minggu. Apakah kamu akan selalu menjadi pencerita yang setiap tengah malam mengirimiku sajak-sajak cinta?” Dia mengajakku bercakap-cakap sambil menyanyikan Did You Ever Love Somebody-nya Jessica Simpson di bawah gerimis yang menciptakan denting irama melengking-lengking.

Aku selalu tersesat di rimba cerita, Marina. Sebuah rimba yang membuat hidupku begitu bergairah untuk sekadar mengatakan gelisah. Ughh.., setiap pagi subuh selalu saja ada sentuhan dingin yang mengurai percikan makna dari mimpi-mimpi yang kuciptakan tadi malam. Lalu sepasang bintang dan sepasang bulan yang kau kirim sebagai pengganti sajak-sajak cintaku mulai tumbuh menjadi sepasang sayap yang akan mengajariku terbang. Sungguh indah bukan? Terbang di rimba cerita dengan sepasang sayap yang terus menyala. Lalu aku akan merangkai irama dari setiap kepakan sayap itu menjadi sajak-sajak cinta baru, yang akan kukirimkan kembali kepadamu agar aku terus mendapat cahaya untuk membawaku terbang.

Kemudian hujan semakin menderas. Perempuan itu mencibir ketika aku mulai menghentakkan tombol-tombol keyboard sambil menyeruput segelas kopi panas. Kunyalakan sebatang rokok, dan dia menyibakkan asapnya yang mengepul di celah-celah aroma kopi yang melindungiku dari dingin. Matanya melotot dan berusaha meniup bara yang menyala di ujung tembakau yang sebagian telah menjadi abu.

“Matikan sebelum mengoyak jantungmu!,” hardiknya sambil terus meniup dengan hembusan napasnya yang memendarkan aroma kembang.

Percakapan belum berhenti. Sesekali dia menebarkan senyuman dari wajahnya yang letih karena selama berjam-jam tidak beranjak dari tempatnya. Aku merenung sejenak dan berusaha mengingat-ingat setiap kejadian yang kulalui ketika menjelajahi gunung-gunung dan sungai sampai ke pulau-pulau dan lembah. Aku lelaki petualang yang ingin singgah dan membangun sarang abadi di rimba terakhir yang kutemui. Dia seperti membaca pikiranku.

“Apa kita seperti sepasang kupu-kupu?” katanya membuyarkan renunganku.
“Mungkin…”
“Kok mungkin!”
“Kita berdua?”
“Ya!”
“Tapi kupu-kupu yang sedang belajar merangkai wanginya kembang,” aku mengulang penggalan sajak yang pernah kuselipkan di antara lembaran mimpinya beberapa malam silam.
“Kata-kata itu lagi. Apa tidak ada yang lain?”
“Yup! Daripada kamu bilang membual.”
“Dasar! Hehehe….”

Kemudian perempuan itu berlalu setelah meninggalkan sepasang bintang sebasang bulan, menjelang tengah malam. Sejenak aku melupakan tugas-tugasku yang masih menumpuk di atas meja. Buku-buku masih berserakan dan beberapa majalah tercerabut dari tempat persembunyiannya yang pengap. Bising suara televisi dari sebelah memberitakan ketegangan di perbatasan Malaysia-Indonesia, masalah status Blok Ambalat di Laut Sulawesi, mulai mempengaruhiku. Mendengar cerita lautan aku jadi teringat dengan batu karang. Apakah sebagai lelaki petualang aku akan seteguh batu karang? Sebagaimana nenek moyangku yang setegar gunung-gunung? Ah, aku begitu menyukai lautan terutama yang luas dan lepas. Hanya ada lengkung langit sebagai pembatas. Hanya ada warna pelangi sebagai penghias.

Laut telah mengajarkanku banyak hal. Sejak sepuluh tahun silam ketika aku pertama kali mengenal gemuruh gelombang di Samudera Hindia. Hamparan pasir putih yang memanjang di pantai yang sebagiannya dialiri sungai-sungai. Tapi untuk bertualang aku tidak memerlukan ombak, aku tidak memerlukan angin, aku tidak memerlukan gelombang lautan yang tinggi di mana para petualang dari berbagai penjuru bumi biasa terbang di atas buih memutih bagaikan dewa-dewa laut yang muncul tiba-tiba dari dasar samudera.2) Aku hanya memerlukan sebuah perahu untuk menyeberangi tujuh samudera sebagaimana Christopher Columbus, Vasco Da Gama, atau Marcopollo menemukan persinggahan terakhir dalam petualangannya. Tidak dari kayu yang rapuh, aku memerlukan perahu dari pahatan batu karang yang tetap tegar bila diterjang gelombang. Dengan sepasang cadik dan sepasang dayung yang akan kukayuh menyeberangi siang menyeberangi malam.

Tuhan menciptakan bumi ini dua pertiganya adalah lautan, Marina. Meskipun daratan tetap menjadi tempat persinggahan yang mengasyikkan. Namun daratan tidak pernah bisa mengeringkan laut, tidak seperti laut yang dengan kelembutannya mampu menenggelamkan daratan. Seperti cerita Nabi Nuh yang berlayar di atas daratan yang menjelma menjadi lautan. Dengan perahunya yang seteguh batu karang. Mengelilingi gunung-gunung yang tegar dihempas gelombang pasang. Namun ketahuilah gunung juga bisa memperluas lautan. Seperti cerita Krakatau yang membelah sebuah pulau, menciptakan selat yang setiap saat dilalui orang-orang yang bertualang. Dari sanalah aku belajar bahwa kelembutan dan ketegaran sama-sama mampu menjadi sumber kekuatan. Lalu mungkinkah aku menggabungkan sepasang kekuatan dalam petualanganku menuju persinggahan terakhir? Aku sebenarnya masih ingin bercakap-cakap lebih jauh. Namun kamu telah pulang ke balik singgasana malam. Dan aku kembali sendiri dalam kesunyian. Sebuah sajak dengan sepasang sayap yang bercahaya selesai kutulis, saat malam menunjukkan keteguhannya.

***

Bulan sabit diapit sepasang awan di langit….
Dari balik jendela aku menyaksikan kunang-kunang meliuk di atas setangkai kembang. Malam melempar pesan dengan jemarinya yang dingin. Sebuah musim telah menandai setiap perubahan yang diawali dengan pergantian matahari dan rembulan. Waktu terus berputar dalam rotasinya mengelilingi lingkaran tata surya yang sengaja diciptakan untuk menandai setiap pertemuan dan perpisahan. Tetapi akhirnya akan kembali lagi setelah semuanya berjalan dalam petualangan yang indah, menyeberangi siang menyeberangi malam.

Marina, sekali waktu aku ingin menjelma menjadi kunang-kunang. Sebagaimana aku juga pernah ingin menjelma menjadi kupu-kupu. Lalu kita akan membuat sebuah dunia yang hanya ada di malam hari. Kau sebagai setangkai kembang yang mekar saat bintang-bintang merayakan keindahan alam yang ditandai dengan hembusan angin yang dingin. Selepas senja mengelupaskan warnanya di balik reruntuhan cahaya matahari yang pelan-pelan menyinari belahan bumi yang lain. Dan aku akan menyinari kesendirianmu yang paling sendiri. Maka dunia kita akan menjadi dunia yang paling romantis dari segala dunia yang pernah ada.

Kemudian aku hanya mencium semerbak wewangi sambil menyaksikan kuncupmu mulai mekar perlahan-lahan. Sebab cahayaku hanya cukup untuk menyinari kelopakmu saja, Marina. Biarkanlah kembang-kembang yang lain menemukan cahayanya sendiri. Dan malam penantian itu menjadi suatu malam yang tiada tergantikan. Sepasang sayapku akan mendendangnya irama mengiringi sajak-sajak yang kunyanyikan seperti sebuah tembang sepanjang malam. Tapi sudahlah, biarkan aku terus bercerita sendiri di akhir petualangan ini. Meskipun aku tidak tahu apakah kamu bahagia mendengar cerita ini.

“Hentikan bualanmu, lelaki gunung!” tiba-tiba dia muncul ketika aku belum selesai menuliskan kalimat terakhir di halaman terakhir.
“Aku hanya bercerita.”
“Tapi itu kan bualan!”
“Bukan! Tidak semua cerita itu bualan. Tuhan juga tidak pernah membual saat bercerita dalam Al-Quran.”
“Tapi itu beda!”
“Memang beda, sebab aku bukan Tuhan!”
Dia diam, karena merasa tidak akan pernah menang bila berdebat denganku. Kupandangi wajahnya yang sesejuk embun sedingin batu gunung. Lentik bulu matanya kembali memantik api yang menyala di celah-celah jantungku.
“Lalu kenapa kamu bercerita?” nada suaranya mulai melembut.
“Supaya kamu tidak larut dalam kesunyian.”
“Aku tidak pernah kesepian.”
“Memang. Tapi kamu selalu diam bila aku tidak bercerita.”
“Maksud kamu?”

“Aku lelaki gunung. Aku mempunyai sejuta kisah yang selalu ingin kubagikan kepadamu. Bukankah kamu selalu datang bila aku mulai membuka halaman-halaman cerita? Aku ingin menceritakan kepadamu semua kisah yang kutemui dalam setiap petualanganku. Sebab bila aku mati nanti cerita-cerita itu ikut terkubur bersama jasadku yang sedingin kabut.”

“Apa kamu merasa akan mati, lelaki gunung?”
“Semua yang hidup pasti akan mati sebagaimana yang datang pasti akan kembali. Tapi waktulah yang akan menentukan, sebab kita sendiri juga bagian dari cerita. Endingnya tidak akan pernah tahu, kecuali yang membuat cerita.”
“Lalu kenapa kamu ingin menceritakan kisah-kisahmu kepadaku?”
“Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Mungkin itu bagian dari cerita.”
“Aku jadi bingung!”
“Cerita memang selalu membuat bingung. Kalau tidak, namanya bukan cerita!”

Keningnya berkerut dan matanya menatap tajam ke arahku. Pupilnya berputar-putar seperti sedang mencari sesuatu. Namun aku yakin kalau dia tidak akan pernah menemukan jawaban sebelum menyelami setiap makna dari cerita yang kukisahkan kepadanya.
“Lalu apa lagi yang akan kauceritakan?”
“Aku menginginkan sampan dari batu karang. Dengan sepasang cadik dan sepasang dayung. Lalu ada seikat kembang di dalamnya, yang akan mewangikan petualangan terakhirku.”
“Kok dari batu karang! Bukankah sampan biasanya dari kayu?”

“Biar tetap teguh ketika diterjang gelombang. Karena aku lelaki gunung, yang belum pernah mengarungi lautan luas. Selama ini aku hanya melihat dan mencoba menyelami beberapa selat, namun tak pernah sampai. Aku ingin mengarungi lautan luas untuk mencapai persinggahan terakhirku.”
“Lalu apa yang akan kaulakukan setelah menemukan persinggahan terakhirmu?”
“Maka kubiarkan ombak menyampaikan salam dunia
pada menara usiaku 3).”
Perempuan itu diam. Aku juga diam. Tak ada lagi percakapan tak ada lagi cerita. Kami berdua hening dalam perenungan yang dingin.

Ia hanya mengenal musim ketika daun berguguran.

by Dika Purna Nugraha on Wednesday, August 26, 2009 at 7:14am

 

ia
hanya mengenal musim
ketika daun dan ranting berguguran
karena sebentar lagi kekasihnya datang
membawakannya hujan. lalu selalu akan ia tebarkan di padang-padang
maka tanah perbukitan itu kembali hijau penuh senyum rerumputan

ia menari bersama hujan. mencumbu bungabunga yang bermekaran

musim ini
ia masih berdiri termangu di bibir jalan
sudah hampir dua pekan. saat matahari bangkit
ia bersiap. disisirnya rambut hitamnya yang panjang
dikenakannya gaun putih awan
yang menjuntai hingga mengusap kerikil jalanan

waktu terus merambat. matahari tegak diatas kepala
tapi tak ada titik hitam bergerak di kejauhan
sebagai pertanda kedatangan

sore
saat matahari pulang
ia masih tegak berdiri di bibir jalan
menunggu hingga larut malam
karena inilah saat terakhir yang dijanjikan

malam tak lagi penuh bintang
juga dering serangga
hening seperti pekuburan. terasa mengerikan
angin mendesing mengasah ribuan mata pisau
berkilat-kilat tersapu cahaya bulan

hingga malam menelan semua bayangan

kekasihnya tak kunjung datang

sayupsayup
terdengar gemuruh
ada lengking jerit kematian

lalu tanahtanah. daundaun. bungabunga. basah dengan warna merah

hujan darah!

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.